Laman

Senin, 22 Oktober 2012

Infark miokard akut


PENDAHULUAN
            Pada saat ini AMI (Acut Myocard Infark) menempati urutan pertama sebagai penyebab kematian di Indonesia. Survey kesehatan rumah tangga yang dilakukan secara berkala oleh Departemen Kesehatan menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskuler yang memberikan kontribusi sebesar 19,8 %dari seluruh sebab kematian pada tahun 1993 dan meningkat menjadi 24,4 % pada tahun 1998.
Tingginya angka kematian disebabkan karena luasnya tingkat kerusakan yang dialami oleh miokard.
            Untuk menurunkan angka kematian atas IMA perlu dilakukan tindakan segera yang dapat membuka pembuluh darah koroner (revaskularisasi).
Revaskularisasi dapat berupa :
  • Obat-obat thrombolitik misalnya: streptokinase.
  • PTCA (Percutaneous Transluminal Coronery Angioplasty).
  • CABG (Coronery Artery Bypass Graff).

Revaskularisasi yang segera dan komplet dapat mencegah perluasan infark, memperbaiki fungsi ventrikel kiri dan menurunkan angka kematian. Terapi thrombolitik merupakan salah satu tindakan reperfusi yang paling praktis dan manfaat tertinggi pada pemberian satu jam pertama setelah timbul rasa nyeri dada.
Meskipun thrombolitik telah terbukti dapat menurunkan angka kematian akibat AMI namun penggunaannya masih terbatas. Beberapa klinik masih sangat berhati-hati dalam menimbang resiko dan manfaatnya, indikasi dan kontra indikasi.

 Definisi
IMA adalah kematian jaringan miokard akibat oklusi akut dari pembuluh darah koroner.
Thrombolitik adalah obat untuk menghancurkan thrombus.
Streptokinase adalah salah satu obat thrombolitik yang tersedia dalam bentuk injeksi dan diberikan secara intra vena untuk menghancurkan dan menghilangkan bekuan darah dan nanah serta menekan inflamasi yang disebabkan oleh trauma, thrombo phlebitis sinusitis.

Tujuan:
            Mempersempit luas infark dan memperkecil kerusakan miokard.

Indikasi
1.      Gejala yang sama dengan IMA
2.      Perubahan EKG → ST elevasi > 1 mm pada minimal 2 sandapan yang letaknya berdekatan,gambaran bundle brach blok baru.
3.      nyeri dada
a.       Kurang dari 6 jam : sangat bermanfaat
b.      6-12 jam bermanfaat
c.       Lebih 12 jam tidak bermanfaat kecuali pada penderita dengan ischemia yang berlanjut yang terbukti dari berlanjutnya nyeri dada dan ST elevasi pada EKG.
4.      Usia kurang 75 th.





Kontra Indikasi
1.      Kontra indikasi absolute:
a.       Pernah stroke hemorargik (tidak peduli kapan terjadinya).
b.      Stoke lain atau kejadian serebrovaskuler dalam 1 th.
c.       Neoplasma intrakranial yang telah diketahui sebelumnya.
d.      Perdarahan aktif.
e.       Kecurigaan deseksi aorta.
2.      Kontra indikasi relative:
a.       Hipertensi berat yang tidak terkontrol saat terjadinya IMA (>180/110 mmHg)
b.      Riwayat CVA atau patologi  intrakranial lain.
c.       Penggunaan anti koagulan dengan INR > 2-3,diketahui mempunyai kecenderungan perdarahan.
d.      Trauma dalam 2-4 minggu
e.       Pernah mendapat Streptokinase dalam 5 hr sampai 2th atau alergi.
f.       Hamil
g.      Ulkus lambung yang aktif
h.      Riwayat Hypertensi lama..
i.        IMA non ST elevasi.


Problem Perawatan
1.      Nyeri akut:
Pada waktu pemberian thrombolitik terjadi nyeri dada, tindakan yang diberikan: nitrat bisa diberikan SL / IV.
2.      Perdarahan :
Perdarahan biasanya terjadi pada tempat pengambilan darah atau tempat injeksi im. Perdarahan berat terjadi pada < 1% penderita. Perdarahan yang paling berat namun jarang sekali terjadi (0,8 %) adalah perdarahan intracerebral .Jika terjadi perdarahan ,tindakan yang harus diambil adalah :
-          Hentikan Anti thrombolitik.
-          Berikan FFP (Fresh Frozen Plasma) 2 -4 unit .
-          Berikan asam traneksamin 10 mg/kg BB iv perlahan-lahan dapat diulang setelah 30 menit bila diperlukan (atas advis dokter).
3.      Perubahan hemodinamik (hipotensi)
Hipotensi dapat disebabkan oleh infark atau obat-obat yang diberikan
Tindakannya:
1.      Posisikan kepala lebih rendah.
2.      Berikan cairan secara hati-hati
3.      Berikan inotropik positif (dopamine) jika perlu.
4.      Stop thrombolitik (bila  hipotensi tidak bisa diatasi dengan terapi diatas)
4.Reaksi alergi:
            Jarang terjadi, kalau terjadi berikan steroid / anti histamine

Prosedur Thombolitik
Persiapan;
A. Pasien :
1.      Pemeriksaan enzim (CKMB)< SGOT, CPK, gula darah,elektrolit
2.      Penderita harus dirawat di ICCU/ICU.
3.      ECG sebelum pemberian Steptokinase.
4.      Informed Consent
a.       Menjelaskan tindakan dan prosedur yang akan dilakukan pada pasien dan keluarga.
b.      Menjelaskan resiko tindakan pada penderita dan keluarga.

B. Persiapan alat:
1.      Obat Streptokinase 1,5 juta
2.      Tranfusi set
3.      Vena catheter
4.      Spuit 10cc ,5cc


Prosedur Tinndakan
1.      Oplos streptokinase 1,5 juta unit dengan PZ 0,9 % atau Dextrose 5% menjadi 100 cc.
2.      Pasang monitor ECG.
3.      Observasi vital sign.
4.      Pasang IV line.
5.      Rekam ECG 12 lead.
6.      Setelah pemberian infus streptokinase dispoel dengan RL/ D5% life line.

Paska Tindakan
a.       Observasi monitor ECG
b.      Observasi vital sign (adakah  Hipotensi).
c.       Observasi perdarahan, keluhan seIMA, pusing, mual.
d.      Observasi reaksi alergi.
e.       Rekam ECG  6 jam dan 12 jam setelah pemberian streptokinase.

Evaluasi:
            Gagal :
- Masih ada keluhan nyeri dada
- Pada ECG  ST elevasi masih ada / < 50%.
- Hasil CKMB masih tinggi.
           
Berhasil:
- Nyeri dada hilang
- ECG ST elevasi menurun.

Catatan:
Pemberian terapi thrombolitik jangan menunggu hasil pemeriksaan enzim  jantung karena penundaan yang tidak perlu ini dapat menambah keruIMAan miokardium yang seharusnya dapat terselamatkan. Jika keluhan klinis penderita sesuai dengan karakteristik IMA dan kadar enzim jantung meningkat, namun tidak terdapat ST elevasi pada ECG, maka diagnosisnya adalah IMA non ST elevasi. Penderita harus mendapat terapi : heparin, asetosal, dan obat-obat anti angina.
            Harus ditulis tanggal, jam pemberian.












DAFTAR PUSTAKA

  1. Pratanu I, Perawatan Intensif Infark Miokard Acut Kumpulan Naskah Ilmiah Pendidikan Perawatan Berkelanjutan I, 1999.

  1. Team ACLS RS Jantung Harapan Kita Era Reperfusi Syndrom Koroner Akut , P.
72-85,2000.
     
      3.   Tata  laksana IMA dengan ST, Elevasi 2004.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar